rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Bukan Memilih Pemimpin "Ahistoris"


PELOPOR terapi Gestalt, Frederick S Perls, memperingatkan betapa komunikasi verbal (komunikasi lewat kata) biasanya merupakan kebohongan. Komunikasi lewat kata-kata menyembunyikan esensi pribadi manusia penyampainya.
Bagi Perls, komunikasi yang riil (nyata dan sejati) melampaui sekadar kata-kata (Perls, 1969). Maka, Perls menekankan betapa perlunya manusia memerhatikan dan menyadari kesenjangan (incongruities) antara kata-kata seseorang dan apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

Peringatan Perls membuat kita sedih justru ketika kita menyaksikan keseluruhan kampanye calon presiden dan calon wakil presiden lalu yang hampir semata-mata ditebari kata-kata sangat manis dari setiap calon pemimpin itu. Para calon pemimpin eksekutif puncak Indonesia sepenuhnya berkata-kata amat manis tentang diri sendiri, tanpa menyinggung kegagalan-kegagalan atau kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan di masa lampau. Memang biasa dikatakan, betapa wajarlah jika dalam acara-acara kampanye mereka berkata-kata manis tanpa membicarakan kegagalan atau kesalahan mereka. Justru aneh jika dalam kampanye itu mereka mengatakan kegagalan dan kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Namun, jika kita memerhatikan peringatan Perls tentang betapa palsunya komunikasi verbal, kita bisa menyadari betapa kata-kata yang manis melulu mencerminkan tingkat kebohongan yang tinggi. Perbauran antara keberhasilan dan kegagalan serta ketersambungan nuansa kecemerlangan dan kesalahan dalam perilaku atau riwayat hidup manusia adalah suatu kewajaran. Justru ketika kita menyaksikan seorang calon pemimpin puncak bangsa berkata-kata manis melulu tentang dirinya sendiri, kita menangkap suatu kebohongan yang berakar dalam kesalahan sistematik proses berpikir yang oleh terapis kognitif Aaron T Beck dan kawan-kawan disebut distorsi proses berpikir (cognitive distortion) (Corey, 2001). Dengan cuma berkata-kata manis melulu tentang diri sendiri, kendati hal itu dilakukan dalam kampanye, seorang calon pemimpin melakukan abstraksi selektif (selective abstraction), yaitu membuat simpulan-simpulan berlandaskan rincian terisolasi dari khazanah peristiwa, dengan menghilangkan informasi lengkap serta meniadakan signifikansi konteks keseluruhan.
SUKA tak suka, bangsa Indonesia kini telah sampai pada kurun waktu untuk memilih pemimpin puncak baru nyaris semata-mata berdasarkan luncuran kata-kata abstraksi selektif yang diucapkan para calon presiden dan calon wakil presiden. Para calon presiden dan calon wakil presiden tampil meyakinkan di hadapan rakyat seolah tanpa dosa, yang dirangkum oleh kesenjangan antara kata-kata mereka dalam mengampanyekan diri sendiri di satu pihak dan perbuatan mereka di masa yang telah lewat di pihak lain.
Mereka tampil seolah sebagai makhluk ahistoris, yang hanya berdimensi di sini, dan kini tanpa sejarah. Setiap kali ada sedikit saja pertanyaan historis, setiap calon pemimpin bukan menjawab dengan mendeskripsikan secara substansial perbuatan-perbuatannya di masa lampau secara apa adanya, justru yang terjadi adalah perkilahan-perkilahan atau rasionalisasi-rasionalisasi yang tidak lain adalah pengingkaran sejarah dan pengukuhan absurditas ahistorisitas dirinya.
Perbuatan manusia hanya bisa dinilai setelah masa perwujudan perbuatan tersebut lewat. Mustahil kita melakukan penilaian perbuatan sebelum perbuatan itu terwujud. Pada perspektif ini bisa disadari, betapa setiap calon pemimpin niscaya tampil di hadapan rakyat tanpa ketakutan membawa sendiri perbuatan-perbuatan yang pernah mereka wujudkan di masa lampau. Penampilan para calon pemimpin puncak di hadapan rakyat kali ini adalah untuk mendapatkan penilaian dari rakyat. Demi perwujudan penilaian yang adil dan sahih, rakyat niscaya menilai setiap calon pemimpin tidak hanya berdasarkan kata-kata yang ia sampaikan, melainkan pula berdasarkan perbuatan-perbuatan yang telah ia wujudkan di masa lampau.
Jadi, jika setiap calon pemimpin puncak menginginkan penilaian yang adil dan sahih buat dirinya, ia niscaya tampil di hadapan rakyat secara utuh, berani membeberkan sendiri perbuatan-perbuatannya di masa lampau, di samping juga berkata-kata menerangkan wawasan dan rencananya sebagai seorang pemimpin bangsa. Dengan demikian, ia merangkai historisitas dirinya yang realistis, yang terentang antara kegagalan dan keberhasilan, antara kesalahan dan kecemerlangan, antara masa lampau dan masa kini, antara perbuatan yang pernah diwujudkan dan kata yang ditebar kini.
Sorotan rakyat terhadap perbuatan calon pemimpin di masa lampau sama sekali bukan upaya murahan mengungkit kesalahan atau pelampiasan dendam, melainkan upaya substansial untuk menjamin penilaian yang utuh, adil, dan sahih atas keberadaan pribadi historis setiap calon pemimpin puncak. Dengan pandangan ini, kita ingin menegaskan betapa memilih presiden dan wakil presiden bukanlah memilih pemimpin ahistoris. Memilih presiden dan wakil presiden adalah memilih pemimpin bangsa yang dapat diterima utuh apa adanya oleh rakyat setelah rakyat membuat penilaian yang adil, sahih, dan menyeluruh tentang keberadaan pribadi historis calon presiden dan calon wakil presiden.
MEMILIH pemimpin hanya berdasarkan kata-kata manis yang ia luncurkan dalam kurun kampanye tidak bisa dipertanggungjawabkan, bukan hanya karena tindakan memilih dengan cara seperti itu berarti memilih dalam kebohongan, melainkan pula karena tindakan tersebut mengingkari beberapa fakta penting yang ikut mencerminkan kebutuhan Indonesia di masa kini.
Fakta pertama, hampir semua calon pemimpin puncak yang tampil dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2004 ini adalah tokoh-tokoh yang terlibat dalam memberikan pengaruh bagi perwujudan realitas Indonesia masa kini, yang dalam banyak hal mendasar sedemikian tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga terdekat, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Pada perspektif ini, kita bisa menyadari betapa pentingnya pengungkapan perbuatan-perbuatan setiap calon pemimpin di masa lampau. Jika kita memilih seorang pemimpin puncak yang perbuatan-perbuatannya di masa lampau memberi pengaruh signifikan bagi perwujudan ketertinggalan Indonesia dalam berbagai hal mendasar, kita melakukan kesalahan. Bukankah memilih pemimpin yang di masa lampau pernah ikut menghancurkan Indonesia bisa berarti memberikan peluang bagi penghancuran ulang Indonesia?
Fakta kedua, Indonesia yang kaya korupsi dan ketidakjujuran sesungguhnya sangat memerlukan pemimpin puncak yang jujur. Di sisi lain, kita menyadari pula betapa mustahilnya mendapatkan pemimpin yang sempurna, dalam arti bebas sama sekali dari kesalahan dan kegagalan di masa lampau. Kita menyadari dan bisa menerima ketidaksempurnaan setiap calon pemimpin, tetapi di sisi lain sangat mengharapkan kejujurannya. Ketika kita disodori kata-kata manis melulu dari para calon presiden dan calon wakil presiden, kita justru menjadi sangat prihatin dan sedih karena kita tidak melihat kejujuran dalam diri mereka.
Fakta ketiga, Indonesia adalah negeri yang kaya "urusan yang belum terselesaikan" (unfinished business). Pemimpin puncak Indonesia niscaya mampu memimpin penyelesaian berbagai urusan tersebut dengan baik. Pemimpin seperti itu adalah manusia yang sungguh telah berdamai dengan masa lampaunya, tidak lagi dibebani berbagai urusan masa lalu, dan tidak lagi menjadi bagian dari berbagai urusan yang belum terselesaikan. Perdamaian dengan masa lampau itu justru dapat dicapai dengan membuat pengakuan jujur tentang kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu.
Justru calon pemimpin yang semata berkata-kata manis tentang dirinya belum sungguh berdamai dengan masa lampaunya sendiri. Apakah insan seperti ini akan mampu memimpin penyelesaian berbagai unfinished business yang menggunung di tengah realitas kehidupan bangsa Indonesia?

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar mu