rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Kapitalisme Modern, Komunisme, Dan Sosialisme Masa Kini



 1. Bagaimana teori dan pelaksanaan kapitalisme klasik?

Selama abad ke-18 dan khususnya abad ke-19, sistem kapitalisme klasik dianut oleh banyak negara di dunia dimana pada masa itu diterapkan oleh negara-negara yang sudah maju di bidang ekonomi seperti Inggris, negara-negara Eropa Barat , dan Amerika. Kapitalisme klasik berlandaskan pada seluruh ajaran-ajaran Adam Smith (1723 - 1790), seorang ahli ekonomi berkebangsaan Inggris yang menulis buku “An Inquiry Into The Nature And Causes of Wealth of Nations” (1766).

Adam Smith percaya pada keuntungan yang dihasilkan dari kebebasan dalam pasar - penjualan dan pembelian - dan dalam kompetisi tanpa kompromi. Menurut pemikirannya dan para pengikutnya, kompetisi tanpa kompromi dalam pasar memberikan jalan terbaik untuk mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan oposisi para individu, dan karenanya dapat mencapai masyarakat yang baik dan adil. Menurut pemikiran mereka, walaupun setiap individu hanya mementingkan kepentingan sendiri dan banyak aspirasi untuk memperoleh keuntungan, pelaksanaan pasar dimana pemerintah tidak ikut campur melalui penerapan tarif yang tidak pada tempatnya atau melalui pengaturan bunga rata-rata (rates of interest), harga-harga dan upah, akan memberikan sumbangan yang besar untuk barang-barang konsumsi. Rumusan tentang apa yang sudah diuraikan di atas disebut kapitalisme laissez faire (kebijaksanaan tentang larangan intervensi/ikut campur). Laissez faire berasal dari frase Perancis yang berarti "biarkan sendiri".

Pemikiran ini memberikan dinamisme terhadap para kapitalis pemilik pabrik-pabrik dan bisnis sehingga produksi meningkat dan berkembang dengan cepat dibawah kapitalisme klasik. Namun, kelangsungan hidup jutaan para pekerja dalam pabrik dan bisnis kapitalis menjadi sangat miskin dan sangat tertindas. Mereka hidup dalam kondisi sangat buruk, menderita dan melarat. Lebih dari itu, banyak dari mereka - perempuan dan anak-anak - terpaksa bekerja hingga sakit dan meninggal. Sebenarnya, pada tahun 1815, sebuah rancangan undang-undang tentang aturan jam kerja pabrik tekstil diusulkan di Parlemen Inggris. Isinya melarang mempekerjakan anak-anak di bawah 10 tahun, juga larangan bekerja lebih dari 10,5 jam perhari bagi pekerja di bawah 18 tahun. Rancangan Undang-undang ini gagal mendapat dukungan Parlemen karena dianggap bertentangan dengan prinsip laissez faire.

2. Darimana asal, tujuan dan hasil dari imperialisme borjuis?

Sejak akhir abad ke-18, khususnya selama abad ke-19, hingga awal abad ini, kaum borjuis penguasa dari Inggris dan negara-negara kapitalis maju di Eropa Barat seperti Perancis, Belanda, dan Belgia menguasai koloni dan semikoloni khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika, dan membentuk kerajaan. Sejak akhir abad ke-19, kaum borjuis penguasa di Amerika Serikat, Jerman dan Jepang juga menguasai daerah-daerah koloni serta membentuk kerajaan. Dengan demikian, mulailah imperialisme borjuis atau kapitalis.

Berikut tujuan penguasaan koloni oleh kaum borjuis dari negara-negara kapitalis maju. Pertama, sebagai ekspresi sovinisme (chauvinism) mereka. (Sovinisme adalah suatu arogansi berlebihan yang secara tidak beralasan memaksakan superioritas negara, ras atau budaya tertentu, dan memandang rendah negara, ras, atau budaya lain). Kedua, untuk memperoleh bahan-bahan mentah industri dengan harga murah. Ketiga, untuk mendapatkan pasar bagi surplus produk yang tak lagi terjual di negara mereka sendiri. Ketika kapitalisme mencapai tahap monopoli, muncul dampak lain dari imperialisme. Pertama, kaum borjuis penguasa dari negara-negara kapitalis maju berusaha mendapat kontrol terhadap daerah jajahan untuk menginvestasikan kelebihan modal mereka dalam usaha mengejar lebih banyak lagi keuntungan. Kedua, mereka berusaha menguasaitenaga kerja murah untuk pabrik-pabrik yand didirikan di daerah jajahan tersebut.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, kaum borjuis dari negara kapitalis maju bekerjasama dengan para penanam modal besar dan tuan tanah feodal di daerah koloni dalam mengeksploitasi massa pekerja di daerah jajahan. Para penanam modal dan tuan tanah domestik menjadi mitra atau agen dari kepentingan-kepentingan imperialis-yaitu para pemodal besar dari negara-negara kapitalis maju.

Ekonomi negara kapitalis terus berkembang, para penanam modal dari negara-negara ini serta para penanam modal dan tuan tanah lokal semakin kaya. Sementara hidup para pekerja di daerah jajahan dan makin melarat akibat para penanam modal domestik dan asing serta tuan tanah yang merasa memiliki sendiri produk tenaga kerja mereka. Inilah hasil kejam dari imperialisme borjuis.

3. Bagaimana bangkitnya sosialisme dan apa peran Marx dan Engels dalam sejarahnya?

Dalam konteks kondisi dehumanisasi kehidupan serta penderitaan para pekerja di negara maju maupun daerah jajahan seperti diuraikan di atas, sosialisme bangkit sebagai protes menentang penyalahgunaan kekuasaan dan tekanan yang merupakan dampak kapitalisme klasik dan impereialisme borjuis.

Sosialisme bangkit dari protes kaum humanis yang menentang ketidakadilan dan penindasan oleh kapitalisme klasik dan imperialisme borjuis terhadap para pekerja di dunia. Melalui perjuangan menuju kepemilikan sosial dan kontrol terhadap produksi dan pertukaran, serta melalui pembebasan dari penjajahan, sosialisme berjuang untuk mengakhiri penindasan sesama manusia dan dengan setara menyelesaikan konflik sosial yang timbul dari pembagian kelas secara sewenang-wenang. Sosialisme berusaha menyelesaikan kendala-kendala utama dalam pembentukan peradaban yang adil, berdasar persaudaraan dan progresif.

Kemajuan dan pertumbuhan sosialisme, sistematika intelektualnya, dan pencapaian kekuatannya sebagai kekuatan politik di Eropa abad ke-19, sebagian besar merupakan hasil tulisan dan usaha Karl Marx (1818-1883) dan rekannya Friedrich Engels (1820-1895). Bersama. mereka menulis Communist Manifesto yang diterbitkan pada 1848. Di samping itu, karya Marx berjudul Capital (Das Kapital) Volume Satu yang terbit 1867 dan diselesaikan Engels setelah Marx meninggal. Volume Dua karya ini terbit 1885, dan Volume Tiga 1894.

Marx dan Engels percaya bahwa mereka telah menemunkan hukum alam yang tak dapat ditawar dan arah sejarah. Hal mana menandai kehancuran kapitalisme setelah krisis yang berulang dan semakin parah, serta kemenangan mutlak sosialisme yang tak terhindarkan. Karena kepercayaan mereka dalam karakter ilmiah hukum ini, mereka menyebutnya sistem "sosialisme ilmiah" (scientific socialism). Marx dan Engels juga yakin bahwa kebebasan pekerja hanya dapat dicapai melalui perubahan sistem dari kapitalisme ke sosialisme-perubahan yang secara umum hanya dapat diraih melalui revolusi kekerasan. Maka sistem pemikiran mereka disebut "sosialisme revolusioner" (revolutionary sosialisme). Dalam membangun teori atau sistem pemikiran mereka, Marx dan Engels menjabarkan bagian-bagiannya dari empat sumber utama: pertama, ekonomi Inggris; kedua, sosialime humanis Perancis; ketiga, filosofi determinis Hegelian Jerman; dan keempat, ilmu pengetahuan dan teknologi akhir abad ke-19.

Selama krisis sistem kapitalis terus berlangsung dengan kekuatan penuh dan selama penindasan terhadap para pekerja terus memburuk, teori Marx dan Engels kian kredibel dan menarik. Namun, menjelang akhir abad ke-19, arah kejadian-kejadian dalam sistem kapitalis ternyata berbeda dengan yang diramalkan Marx dan Engels.

4. Dari mana asal "revisionisme" dan apa artinya?

Pada dasarnya karena kesatuan militan dan aksi pekerja di bawah kepemimpinan gerakan sosialis, mereka mampu mencapai kekuatan ekonomi dan politik, dengan demikian pekerja mampu memaksa kaum kapitalis untuk memberi mereka bagian lebih besar dari pendapatan masyarakat, yang sebenarnya lebih banyak merupakan hasil jerih payah para buruh. Akibatnya dalam negara-negara kapitalis besar, kehidupan para pekerja semakin maju dan sejahtera. Para ekonom dan teknisi secara bertahap mempelajari metode-metode di mana pemerintah dapat mengatur sistem kapitalis, pada tahap tersebut dalam pembangunan para pekerja, untuk menghindari atau mengurangi kemunculan kembali krisis serupa. Dalam suasana inilah, tumbuh perbedaan pendapat dan aksi di antara kaum sosialis.

Di satu sisi, para sosialis Jerman dan Inggris, yang berpendapat bahwa kesejahteraan dan kemajuan pekerja dapat dicapai dengan lebih efektif melalui politik yang demokratis, melalui aksi-aksi serikat pekerja, dan melalui pendidikan menuju pembangunan masyarakat sosialis. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa, sosialisme dapat dibangun bertahap melalui perjuangan damai, tidak hanya melalui revolusi bersenjata. Pemikiran demikian kemudian menjadi sebuah revisi atau perubahan besar dari pemikiran Marx dan Engels, yang oleh para kritikusnya disebut 'revisionisme'.

Salah seorang revisionis besar adalah Eduard Bernstein (1858 - 1932) dari Jerman yang menulis Evolutionary Socialism (1899). Bernstein adalah anggota Fabian Society Inggris (berdiri 1894), perkumpulan yang dinamai berdasarkan seorang jenderal Roma, Fabius, yang banyak mencapai kemenangan militer melalui karakterisitk taktiknya yang hati-hati, teratur, terencana dengan aksi intelijen.

5. Bagaimana timbulnya gerakan Marxist - Leninis dan kemana arahnya?

Di lain pihak, ada kaum sosialis di negara-negara seperti Rusia, di mana hak-hak demokratis pekerja dan rakyat ditindas sedemikian rupa hingga mereka tak dapat memperbaiki nasib dengan damai. Akibatnya di negara-negara ini dirasakan kebutuhan untuk membangun sosialisme dengan revolusi bersenjata seperti ditulis Marx dan Engels. Arah kedua ini dipimpin oleh kaum sosialis Rusia, khususnya Partai Bolshevik di bawah pimimpinan Vladimir Ilyich Lenin (1870 - 1924).

Konflik antara kedua pihak pergerakan sosialis semakin tampak setelah kaum Bolshevik memenangkan kekuasaan negara di Kekaisaran Rusia 1917. Keadaan masyarakat Rusia sangat menyedihkan saat kaum Bolshevik memenangkan kekuasaan politik. Terlebih di antara butir-butir pemikiran Marx dan Engels, Lenin cenderung memilih filsafat deterministik Jerman yang dikembangkan dari Hegel dan pemikiran abad ke-19 ketimbang ekonomi Inggris dan sosialisme humanis Perancis. Akibat kecenderungan ini adalah determinisme-kepercayaan bahwa manusia dan masyarakat diatur oleh hukum alam dan sejarah, yang niscaya akan membawa mereka kepada tujuan yang tak terhindarkan.

Akibat peristiwa dan pemikiran tersebut, pemerintahan yang didirikan Lenin dan kaum Bolshevik-nya menjadi diktator dan bukan demokrasi. Kekuasaan yang dijanjikan kepada kaum buruh dan petani diambil alih. Seluruh kekuasaan dipegang oleh Partai Bolshevik dan anggotanya menyebut diri Partai 'garda depan kelas pekerja'. Partai penguasa ini menekan hak-hak demokratis, kebebasan warga negara, dan kebebasan beragama rakyat, khususnya sekelompok minoritas yang agresif dan dogmatik yang menentang pengambilalihan kekuasaan total oleh kaum Bolshevik. Tak sedikit penentang yang dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh. Serikat pekerja dirampas kekuasaannya dan dijadikan pelaksana perintah pimpinan Partai Bolshevik. Bahkan setelah situasi darurat nasional berakhir, kaum Bolshevik tetap mempertahankan pemerintahan diktatorialnya.

Tak lama sesudahnya, kaum Bolshevik mengganti nama partainya menjadi 'Partai Komunis Uni Soviet', untuk mengenang Manifesto Komunis Marx dan Engels. Dalam keyakinan bahwa Lenin berhasil mengembangkan teori dan praktek yang dimulai Marx, mereka menamakan teori dan praktek mereka 'Marxisme-Leninisme'; hingga semua partai di seluruh dunia yang menerima teori dan praktek tersebut disebut Komunis atau Marxis-Leninis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar mu